Makalah Agama, Akal dan Mitos
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang diberi potensi akal dan hati. Manusia pun diberi oleh Allah beberapa pengetahuan (Ar-Rahman: 3). Dalam sejarah pun dicatat perkembangan pengetahuan manusia mulai dari filsafat sampai pada ilmu pengetahuan. Pada zaman Yunani Kuno yang ditandai dengan perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Manusia tidak lagi berpikir mitos terhadap gejala alam, tetapi mulai berpikir itu sebagai kausalitas. Sehingga, manusia pada waktu itu tidak pasif, melainkan proaktif dankreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Pengetahuan manusia pun berkembang dari masa ke masa. Mulai dari masa Yunani Kuno (700 SM), masa Islam klasik, masa kejayaan Islam, masa Renaisans (abad ke 15-16), masa modern (abad 17-19), dan zaman kontemporer (abad ke 20). Zaman kontemporer ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi tinggi, sehingga dikenal pula zaman eraglobalisasi. Dimana informasi dan transpormasi budaya dapat dilakukan dengan sangat mudah.
Perkembangan ilmu dan teknologi yang semula untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh adanya penemuan televisi, komputer, handphone telah mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Sehingga, kamunikasi sosial kita dengan keluarga dan masyarakat sering terabaikan. Begitu pun dengan adanya bioteknologi yang merancang adanya bayi kloning, mengakibatkan keresahan berbagai kalangan, seperti agamawan dan ahli etika.
Dalam dunia filsafat pun melahirkan berbagai pemikiran-pemikiran tentang hal-hal yang metafisik, seperti berfilsafat tentang tuhan. Dimana tuhan dijadikan objek berpikir filsafat, sehingga pada masa pasca khulafaur Rasyidin muncul beberapa aliran teologi. Hal ini menjadi keresahan bagi ulama dan intelektual Islam. Berbagai pandangan pun muncul mengenai filsafat, salah satunya pandangan hujjatul Islam al-Ghazali dengan munculnya kitab tahafutul falasifah (kesalahan para filosof). Bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang berfilsafat maka dia termasuk kaum Zindiq.
Dalam dunia filsafat pun melahirkan berbagai pemikiran-pemikiran tentang hal-hal yang metafisik, seperti berfilsafat tentang tuhan. Dimana tuhan dijadikan objek berpikir filsafat, sehingga pada masa pasca khulafaur Rasyidin muncul beberapa aliran teologi. Hal ini menjadi keresahan bagi ulama dan intelektual Islam. Berbagai pandangan pun muncul mengenai filsafat, salah satunya pandangan hujjatul Islam al-Ghazali dengan munculnya kitab tahafutul falasifah (kesalahan para filosof). Bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang berfilsafat maka dia termasuk kaum Zindiq.
Kenyataan di atas membuat paradigma di sebagian masyarakat, bahwa antara filsafat, ilmu, dan agama itu bertentangan. Benarkah demikian? Padahal dalam agama kita (Islam), terdapat ajaran-ajaran tentang pentingnya berpikir dan menuntut ilmu. Sehingga dalam beberapa ayat Allah memuji orang-orang yang mampu berpikir dengan benar (ulil albab) dan meninggikan derajat orang-orang beriman lagi berilmu (al-Mujadalah: 9). Hal inilah yang menjadi latar belakang penulisan makalah yang berjudul ”Agama, Akal dan Mitos”.
B. Rumusan Masalah
- Apa itu agama?
- Apa itu akal?
- Apa itu mitos?
- Bagai mana hubungan agama dan akal?
- Bagaimana hubungan agama dengan mitos
- Bagaimana hubungan akal dengan mitos?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama
Definisi tentang agama di sini sedapat mungkin sederhana dan meliputi. Definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit maupun terlalu longgar, tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Agama merupakan suatu lembaga atau institusi yang mengatur kehidupan rohani manusia. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa di luar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige, dan lain-lain.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
1. Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan, dan
2. Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan.
Dengan demikian, agama adalah penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.
Lebih luasnya lagi, agama juga bisa diartikan sebagai jalan hidup. Yakni bahwa seluruh aktivitas lahir dan batin pemeluknya diatur oleh agama yang dianutnya. Bagaimana kita makan, bagaimana kita bergaul, bagaimana kita beribadah, dan sebagainya ditentukan oleh aturan/tata cara agama.
B. Pengertian Akal
Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama.
Akal berasal dari bahasa Arab 'aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini.
Akal juga bisa berarti jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, dan ikhtiar. Akal juga mempunyai konotasi negatif sebagai alat untuk melakukan tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan.
Akal fikiran tidak hanya digunakan untuk sekedar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang asal-usul, alam dan masa yang akan datang. Kemampuan berfikir mengantarkan pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini.
Freud membagi manusia menjadi tiga wilayah pokok, antara lain:
Sesuai kebutuhan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar, dipercayakan kepada instink, maka diberikan pada akal (ego) peran yang strategis dalam perencanaan bentuk pemuasan terhadap instink (id) sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh kenyataan yang rasional serta tuntutan adat kebiasaan sosial dan kepercayaan (super ego).
Kant mengatakan bahwa apa yang kita katakan rasional itu adalah suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan ukuran hukum alam. Dengan kata lain, rasional adalah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam, menurut Kant.
Contoh
Pesawat terbang yang beratnya ratusan ton, kok bisa terbang?
Jawabannya adalah Ya, dengan alasan karena pesawat itu telah dirancang sesuai dengan hukum alam. Itu rasional. Lain halnya dengan cerita Nabi Musa yang melemparkan tongkatnya ke tanah, lantas tongkat itu menjadi ular, segera saja Anda mengatakan bahwa itu tidak rasional karena menurut hukum alam adalah tidak mungkin tongkat dapat berubah menjadi ular.
C. Pengertian Mitos
Mitos (bahasa Yunani: mythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagaialegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.
Klasifikasi mitos Yunani terawal oleh Euhemerus, Plato (Phaedrus), dan Sallustius dikembangkan oleh para neoplatonis dan dikaji kembali oleh para mitografer zaman Renaisans seperti dalam Theologia mythologica (1532). Mitologi perbandingan abad ke-19menafsirkan kembali mitos sebagai evolusi menuju ilmu (E. B. Tylor), "penyakit bahasa" (Max Müller), atau penafsiran ritual magis yang keliru (James Frazer). Penafsiran selanjutnya menolak pertentangan antara mitos dan sains. Lebih lanjut lagi, mitopeia seperti novel fantasi, manga, dan legenda urban, dengan berbagai mitos buatan yang dikenal sebagai fiksi, mendukung gagasan mitos sebagai praktik sosial yang terus terjadi.
D. Hubungan Agama dengan Akal
Ada empat kelompok dalam menyikapi hubungan antara akal dan agama ;
• Pertama, kelompok Radical Rationalism. Menurut faham ini, seluruh doktrin-doktrin agama tanpa terkecuali bisa dibuktikan oleh akal.
• Kedua, kelompok Fideism. Faham ini meyakini bahwa semua doktrin agama tidak membutuhkan kepada pembuktian dan analisa akal, keimanan bisa muncul tanpa perlu argumentasi dan penelitian akal. Satu agama bisa diterima tidak perlu kepada standart apapun.
• Ketiga, kelompok Critical Rationalism. Dengan tidak menerima dua kelompok di atas, faham ini selain meyakini bahwa kemungkinan melakukan kritik dan penelitian terhadap agama juga menganggap bahwa tidak satupun dari ajaran agama yang kebenarannya definitif (qath’i) dan mutlak.
• Keempat, kelompok Rasionalisme yang seimbang (Moderat Rationalism). Doktrin agama dibagi menjadi tiga kelompok; pertama ada yang sejalan dengan akal (dapat diterima oleh akal) seperti ushuluddin, konsep-konsep umum moral dan lain-lain. kedua ajaran agama yang di luar (bukan bertentangan ) dari jangkauan akal sepeti jumlah rakaat dalam shalat, ketiga doktrin agama yang bertentangan dengan hukum akal seperti trinitas dalam Kristen, hal-hal ini tidak hanya bertentangan dengan akal bahkan dapat digugurkan oleh akal.
E. Hubungan Agama dengan Mitos
Kepercayaan keagamaan yang terkait dengan mitos dan ritual dalam agama primitif pada umumnya terkait dengan simbol. Simbol sebagai bagian dari mitos itu merupakan bagian dari karakteristik budaya manusia. Manusia adalah animal symbolicum. Dengan kemahiran komunikasi simbolik, seluruh kehidupan manusia ditransformasikan secara radikal. Jika dibandingkan dengan binatang, manusia tidak semata-mata hidup dalam realitas yang lebih luas, melainkan lebih dari itu, ia ada dalam “dimensi realitas baru”. Oleh sebab itu bahwa representasi simbolik merupakabn fungsi sentral kesadaran manusia dan menjadi dasar bagi pemahaman kita tentang seluruh kehidupan manusia, termasuk: bahasa, seni, sejarah, agama dan sebagainya.
Simbol tidak saja kesederhanaan sebuah refleksi atas dunia alami sebagaimana yang telah kita lihat dalam hubungan dengan peristiwa-peristiwa alam, melainkan simbol juga merupakan refleksi dari kreativitas dan imajinasi manusia.
F. Hubungan Akal dengan Mitos
Seiring dengan perkembangan pemikiran manusia,dari waktu ke waktu manusia mulai memikirkan kebenaran dari mitos yang telah dipercayai mereka. Mereka membutuhkan logos atau sesuatu yang logis untuk membuktikan mitos tersebut, manusia mulai berfikir dan mulailah filsafat berperan dalam membantu mengubah mitos menjadi logos.
Manusia berfikir secara mendalam dengan menggunakan filsafat, mereka bisa membongkar secara mendalam dan mendasar mengenai mitos-mitos yang ada, sehingga mereka tidak begitu saja percaya, tetapi mereka percaya dengan logos dan dengan bukti-bukti yang ilmiah yang mereka dapatkan dari berfikir dan berfilsafat.
Filsafat juga berfungsi untuk membuktikan benar tidaknya mitos yang telahberedar dalam masyarakat. Dengan berfilsafat dan berfikir secara mendalam, kita akan memperoleh bukti-bukti ilmiah dan rasional, yang mana bukti tersebut dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut dan miros yang tidak terbukti kebenarannya akan ditinggalkan masyararakat, maka jelas dengan filsafat orang bisa merubah sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal.
Ada 3 macam hubungan antara agama, akal dan mitos
1. Agama merupakan sebuah keyakinan tata tertip sebuah kehidupan, jika tidak ada agama maka seseorang itu hidupnya tampa arah, maka disini memerlukan rasio yang kuat untuk menemukan sebuah agama yang murni yang benar-benar menemukan hakikatnya kehidupan itu
2. Agama dan budaya juga tidak bisa dipesahkan, didalam budaya disini banyak hal-hal mitos yang dilontarkan oleh para masyarakat, maka disini memerlukan sebuah pembuktian untuk mencapai sebuah kebenaran dari hal mitos keilmiah maka disini memerlukan akal untuk menemukan kebenaran tersebut.
3. Dengan agama, akal dan mitos bisa menemukan hakikat kebenaran, jika agama merupakan sebuah tradisi atau kepercayaan dan akal bisa menemukan agama yang benar dan mitos yang timbul dikalangan masyarakat bisa dibuktikan dengan akal. Apakah itu sebuah keyakinan atau tradisi yang diwarisi turun-tumurun oleh masyarakat tertentu ?
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Definisi tentang agama di sini sedapat mungkin sederhana dan meliputi. Definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit maupun terlalu longgar, tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Agama merupakan suatu lembaga atau institusi yang mengatur kehidupan rohani manusia. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama.
Mitos (bahasa Yunani: mythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan
Daftar Pustaka
Yunan Yusuf, M, Alam Pemikiran Islam Pemikiran Kalam, Jakarta; Perkasa Jakarta 1990.
Nasution, Harun, Teologi Islam Dan Aliran Analisa Perbandingan, Jakarta; Universitas Indonesia, (UI-Press) 1986.
Al-Majid. Al-Najjar. Pemahaman Islam, PT. Remaja Rodsakarya, Bandung; 1997.
Komentar