Perbedaan Filsafat Antara Al-Ghazali & Ibnu Rusyd
1. Al-Ghazali
1. Riwayat Hidup
2. Karyanya
2. Ibnu Rusyd
1. Riwayat Hidup
Nama lengkap Abu Hamid ibnu Muhammad ibnu Ahmad Al-Ghazali, digelar Hujjah al-Islam.Ia lahir di Thus, bagian dari kota Khurasan, Iran pada 450 H (1056 M).Al-Ghazali dan Saudaranya, Ahmad ketika itu masih kecil, dititipkan kepada seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan didikan dan bimbingan. Diperkirakan Al-Ghazalai, hidup dalam suasana kesederhanaan sufi tersebut sampai usia 15 tahun (450-465).
Pada masa kecilnya ia mempelajari ilmu fiqh di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Rasikani, kemudian belajar kepada Imam Abi Nasar Al-Ismaili di negeri Jurjan. Setelah itu ia berangkat ke Nishabur dan belajar pada Imam Al-Haromain. Disinilah Al-Ghazali terlihat kecerdasannya yang cemerlang, deng kecerdasannya itulah Imam Al-Haromain mengatakan bahwa Al-Ghazali itu adalah“lautan tak bertepi”.
Setelah Al-Haromain wafat, Al-Ghazali pergi ke Al-Ashar untuk berkunjung kepada MenteriNizam al-Muluk dari pemerintah dinasti Saljuk.Disinilah beliau disambut hangat oleh penduduk setempat kerena memiliki ilmu yang luar biasa. Akhirnya Menteri Nizam al-Muluk melantik Al-Ghazali pada tahun 484 H/1091 M, sebagai guru besar (professor) pada Perguruan TinggiNizamiyah yang berada di kota Bagdad. Al-Ghazali mengajar di perguruan tinggi itu selama 4 tahun.
Pada tahun 488 H. Al-Ghazali pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah menyelesaikan ibadah haji, ia pergi ke Syiria (Syam) untuk mengunjungi Baitul Maqdis, kemudian melanjutkan perjalanan ke Damaskus dan menetap selama 10 tahun disana. Di Damaskuslah ia menyelasaikan kitabnya yang berjudu Ihya Ulumuddinsetelah penulisan Ihya Ulumuddin selesai, ia kembali ke Bagdad, kemudian mengadakan majlis pengajaran dan menerangkan isi kitabnya itu. Tetapi karena ada desakan dari penguasa yaitu Muhammad penguasa pada waktu itu.Al-Ghazali di minta untuk kembali mengajar di perguruan Nizamiyah.Di kota Thuslah beliau wafat pada hari Senin, tanggal 14 Jumudil akhir 505 H/1111 M.
Sesaat sebelum meninggal beliau sempat mengucapkan kata-kata yang di ucapkan oleh Francis Bacon, filosof Inggeris, yaitu: “Kuletakkan aruahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku di lipat bumi yang senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa yang akan dating”.
Karya Al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah, diantaranya:
1. Maqashid al-Falasifah (Tujuan-tujuan Para Filosof), sebagai karangan pertama dan berisi masalah-masalah filsafat;
2. Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pikiran Para Filosof), buku ini dikarang sewaktu ia berada di Bagdad tatkala dirinya dilanda ke ragu-raguan. Dalam buku ini, Al-Ghazali mengecamkan filsafat dan para filosof dengan keras;
3. Mi’yar al-Ilm (Kereteria Ilmu-ilmu);
4. Ihya Ulumuddin ( Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), buku ini merupakan karyanya yang terbesar yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpidahpindah antara Damaskus, Yurusalem, Hijaz dan thus yang berisi paduan antara fiqh, tasawuf, dan filsafat;
5. Al-Munqizd al-Dhalal (Penyelamat Dari Kesesatan), buku ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al-Ghazali sendiridan perfleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan;
6. Al-Ma’arif al-‘Aqliah (Pengetahuan Yang Rasional);
7. Misykat al-Anwar (Lampu Yang Bersinar Banyak), buku ini berisi tentang akhlak dan tasawuf;
8. Manhaj al-;Abidin (Jalan Mengabdikan Diri Kepada Tuhan);
9. Al-qtishad fi al-‘Itiqat (Moderasi Dalam Akidah);
10. Ayyuha al-Walad;
11. Al-Mustashfa;
12. Iljam al-‘Awwam ‘an ‘Ilm al-Kalam;
a. Tasawuf
Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang haus akan segala ilmu pengetahuan. Ia berusaha sekeras mungkin agar dapat mencapai suatu keyakinan dan mengetahui hakikat segala sesuatu. Sehingga ia senantiasa bersikap kritis dan kadang ia tidak percaya terhadap adanya kebenaran semua macam pengetahuan, kecuali dengan bersifat inderawi dan pengetahuan hakikat (exioma atau sangat mendasar). Namun pada kedua pengetahuan inipun ia akhirnya tidak percaya (skeptis). Hal ini ia ungkapkan pada kitab al-Mungidz.
Dalam kehidupan orang tasawuf, keadaan baru itu mungkin sebagai apa yang disebut denganahwal (kedaan mereka), karena dalam keadaan itu yang mereka miliki, yaitu setelah tenggelam dalam dirinya dan terlepas dari alam inderanya, mereka bisa menyaksikan, menurut pengakuan mereka terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan alam pikiran. Inilah yang disebut dengan keadaan mati.
Demikianlah krisis yang menimpah diri Al-Ghazali.Suatu keadaan yang menimpa psikologisnya.Ia meragukan indera dan akal, serta berjalan tak menentu dalam keraguan-keraguannya itu, kemudian mencari obatnya, namun tidak di dapatkannya, sebab keraguan-keraguan baru bisa hilang dengan adanya suatu dalil. Sedangkan dalil itu sendiri baru bisa ditemukan dengan penyusunan alasan dan pemikiran-pemikiran yang mendasar, tetapi pemikiran inipun akhirnya juga tidak dipercayainya.
Memang sebenarnya sukar menyebutkan sikap Al-Ghazali tersebut dalam tasawuf, dan boleh jadi nama yang tepat ialah Subyektivismus (kepribadian), sebagai mana yang disebut oleh J. Obermenn, dalam bukunya Der Philosophischeund Relegious Subyektivismus Ghazalia(kepribadian filsafat dan agama pada Al-Ghazali). Pengetahuan yang dimiliki oleh Al-Ghazali brdasarkan atas yang memancar dalam hati, bagaikan air yang bersih/jernih, bukan dari penyelidikan akal, dan tidak pula hasil dari argument-argumen ilmu kalam.
Al-Ghazali dengan tegas menentang orang-orang tasawuf yang meremehkan upacara-upacara agama. Sebaliknya ia menganggap upacara-upacara tersebut sebagai suatu kewajiban yang harus dijalankan muntuk mencapai suatu kesempurnaan.
b. Metafisika
Lain halnya dengan lapangan metafisika (ketuhanan), Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, diantaranya juga mengecam secara langsung dua tokoh Neo-Platonisme Muslim (Al-Farabi dan Ibnu Sina)[8], dan secara tidak langsun kepada Aristoteles, guru mereka. Kekeriruan filosof tersebut ada sebanyak 20 persoalan. Diantara yang terpenting ialah:
- Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (Aristoteles) tentang alam (dunia) berasal dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh Tuhan.
- Al-Ghazali menyerangkaum filsafat (Aristoteles) tentang pastinya keabadian alam. Ia berpendapat bahwa soal keabadian alam itu terserah kepada Tuhan semata-mata. Mungkin saja alam it uterus menerus tampa berakhir andaikata Tuhan menghendakinya. Akan tetapi, bukanlah suatu kepastian yang harus adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri diluar iradat Tuhan.
- Al-Ghazali menyerang kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal besar saja, tetapi tidak mengetahui soal-soal yang kecil.
- Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hokum sebab akibat semata-mata, dan mustahil ada penyelewengan dari hokum itu. Bagi Al-Ghazali segala peristiwa yang serupa dengan hokum sebab dan akibat itu hanyalah kebiasaan (adat) semata-mata, dan bukan hokum kepastian. Dalam hal ini Al-Ghazali menyokong pendapat Ijraul-‘adat dari Al-asy’ari.
Adapun pendapat mereka yang lain, kata Al-Ghazali adalah dekat dengan pendapat Mu’tazilah, Mu’tazilah dengan pendapat demikian tidak mesti dikafirkan.[11]
Pendapat bahwa alam qadim dalam arti tidak bermula atau tidak pernah tidak ada di masa lampau, tidak dapat diterima alam teologi Islam.Sebab, menurut konsep teologi Islam, Tuhan adalah pencipta.Yang dimaksud “Pencipta” adala yang menciptakan sesuatu dari tiada. Kalau alam (dalam arti segala yang ada selain Tuhan) dikatakan qdim, tidak bermula, berarti alam bukanlah diciptakan, dengan demikian Tuhan bukanlah Pencipta, sedangkan dalam al-Qur’an di sebut bahwa Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu. Menurut Al-Ghazali tidak ada orang Islam yang menganut paham bahwa alam ini tidak bermula, alam harus bermula.Karena itu tidak mengherankan kalau dalam teologi Islam, syahadat la ilaha illallah bergeser menjadi la qadiima illallah.Jadi paham adanya qadim selain dari Tuhan, bisa membawa kepada
- Banyaknya yang qadim, banyaknya Tuhan, yaitu paham syirik, sedangkan syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni Tuhan;
- Paham ethaisme; alam yang qadim tidak perlu pada pencipta.
Jelaslah bahwa paham ini bertentangan dengan ajaran dasar dan mutlak dalam Islam.
Menurut Al-Ghazali ilmu Tuhan adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artunya dari zat, kalau terjadi perubahan pada tambahan atau sifat tambahan tersebut, zat Tuhan tetap ada keadaanya, seumpama kalau ada orang berdiri di sebelah kanan kita lalu pindah ke sebelah kiri kita, sebenarnya orang itulah yang berubah bukan kita yang berubah. Selanjutnya Al-Ghazali menyangkal kalau berubah ilmu dapat menimbulkan suatu perubahan pada “zat yang mengetahui”, apakah berbilangnya ilmu juga menimbulkan bilangan pada zat Tuhan ?. Di samping itu Al-Ghazali melandaskan pendapatnya bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iat, jelas bertentangan dengan nash ayat-ayat seperti;
"Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu"
"Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu"
Dari uraian diatas dapat ditarik sutu kesimpulan atau pengertian bahwa yang dikehendaki para filosof adalah kemungkinan yang rasional tentang kebangkitan dan kehidupan akhirat.Para filosof dan Al-Ghazali sama-sam meyakini adanya ‘ke bangkitan’ di akhirat. Perbedaan adalah bentuk dan bagaimana cara kebangkitan itu,.Bagi filosof secara rohaniah, sedangkan bagi Al-Ghazali secara jasmaniah dan rohaniah.
Disamping persoalan yang dapat membawa kepada kekafiran diatas, Al-Ghazali juga membagi manusia kepada tiga golongan, yaitu;
- Kaum awam, yang cara berpikirnya sederhana sekali,
- Kaum pihan, yang akalnya tajam dan berfikir secara mendal, dan
- Kaum penengkar.
c. Etika
Filsafat etika al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam bukunyaIhya Ulumuddin.Dengan kata lain, filsafat etika Al-Ghazali adalah teori tasawufnya.
Mengenai tujuan pokok Al-Ghazali kita temui pada semboyan tasawuf yang dikenal: al-takhalluq bi-akhlaqillahi ‘ala thaqatil basyariyah, atau pada semboyannya yang lain, al-shifatirrahman ala thaqalil-basyatiyah.
Dalam penjelasan yang panjang-lebar tentang shalat, puasa, dan haji, kita dapat menyimpulkan bahwa bagi Al-Ghazali semua amal ibadah yang wajib merupakan pangkal dari segala jalan kebersihan rohani.Al-Ghazali melihat sumber kebaikan manusia itu terletak pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya terhadap Tuhan.
Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagi pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat bagi sekalian alam.Diantaranya yang terpenting adalah muraqabah, yakni merasa di awasi terus oleh Tuhan, dan al-muhasabah, yakni senantiasa mengoreksi diri sendiri.
Menurut Al-Ghazali kebahagian itu ada dua tingkat, yaitu kepuasan dan kebahagian.Kepuasan adalah apabila kita mengetahui kebenaran sesuatu.Bertambah banyak mengetahui kebenaran itu, betapa banyak merasakan kebahagian itu.Akhirnya kebahagian tertinggi itu ialah bila mengetahui kebenaran sumber dari segala kebahagiaan itu sendiri. Itulah yang dinamakan ma’rifatullah, yaitu mengenal adanya Allah tampa syak sedikit juga, dan dengan penyaksian hati yang sangat yakin. Apabila sampai kepada kesaksian itu, manusia akan merasakan suatu kebahagian yang begitu memuaskan sehingga sukar dilukiskan.
d. Konsep Iman dan Kufur
Al-Ghazali dalam pemikirannya, menentang ilmu kalam dan para ulma kalam, meski ia sendiri tetap menjadi tokoh ilmu kalam. Sebagaimana penyerangannya terhadab argument-argumen para filosof, tetapi ia tetap menjadi tokoh filosof. Kritikan Al-Ghazali kepada ulma kalam hanya ditujukan kepada tingkah laku mereka dan kejauhan hati mereka dari agama yang dipertahankan aleh mereka melalui argumentasi.
Dalam memperkuat iman oang-orang biasa, menurut Al Ghazali tidak diperlukan adanya argument-argumen pemikiran yang dalam.Ia menyayangkan adanya pertentangan pendapat dalam beberapa persoalan dan tuduhan telah menjadi kafir yang dikeluarkan oleh pengikut beberapa aliran terhadap orang lain yang tidak sependapat dengan mereka, karena dirasa perlu untuk memberikan batas pemisah antara iman dengan kufur dan antara Islam dengan nonIslam.
1. Riwayat Hidup
Abu Al Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510H/1126M, sekitar 15 tahun wafatnya Al Ghazali.Ia lebih popular dengan sebutan Ibnu Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan nama Averrois. Sebutan ini lebih cocok untuk kakeknya.Penyebutan Averrois untuk Ibnu Rusyd adalah akibat dari terjadinya metamorphose Yahudi-Spanyol-Latin.
Ibnu Rusyd tumbuh dan hidup dikalangan keluarga yang besar sekali pengaruhnya pada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ia dapata mewarisi sepenuhnya intelektualitas keluarganya dan berhasil menjadi seorang serjana all-round yang menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti hokum, filsafat, kedokteran, astronomi, sastra arab, dan lainnya.
Suatu hal yang sangat mengagumkan ialah hamper seluruh hidpnya ia pergunakan untuk belajar dan membaca. Menurut Ibnu Abrar, walaupun rasanya terlalu fantastic sejak mulai berakal Ibnu Rusyd tidak pernah meninggalkan bepikir dan membaca, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan malam pernikahannya.
Kerier Ibnu Rusyd tidaklah mulus dan lancer.Ia sendiri tidak lepas dari pengalaman pahit yang menimpa para pemikir kreatif dan inovatif terdahulu. Memang permulaan Khalifah Ya’cub Ibnu Yusuf tetap menerima kehormatan yang praviliasi yang diberikan kepadanya. Akan tetapi, tahun 1195 M ia dituduh kafir, diadili da dihukum buang ke Lucena, dekat Cordova dan dicopot semua jabatannya. Lebih dari itu semua karyanya dibakar, kecuali yang bersifat ilmu pengetahuan murni (sains), kedokteran, matematika, dan astronomi. Menurut Nurcholis Madjid, terjadi diakibatkan tentang politis.
Untungla[16]h masa gentir dialami Ibnu Rusyd tidak lama Cuma satu tahun. Ibnu Rusyd wafat pada tanggal 10 Desember 1198 M/9 Shafar 595 H di Marakesh dalam usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhutungan tahun Hujrah.
2. Karyanya
2. Karyanya
Sungguh banyak karya Ibnu Rusyd, tetapi sampai sekarang dapat kita temukat sebagai berikut:
- Fashl al-Maqal fi ma bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, berisikan korelasi antara agama dan filsafat.
- Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat, beirsikan kritik terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
- Tahafut al-Tahafut, berisi kritikan terhadap kaya Al Ghazali yang berjudul Tahafut al-Falasifat.
- Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, berisikan uraian-uraian dibidang fiqih.
3. Filsafatnya
Filsafat Ibnu Rusyd sangat dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles. Hal itu wajar, karena banyak menghabiskan waktunya meneliti dan membuat komentar-komentar terhadap kar-karya Aristoteles dalam berbagai bidang, sehingga ia digelar Syarik (Komentator). Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal yang baru dalam pemikiran Islam, hasil pemikiran-pemikiran Islam tentang hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama Islam.Telah tersebut diatas tentang reaksi Al-Ghazali terhadap pemikiran mereka seraya menyatakan jenis-jenis kekeliruan yang diantaranya dapat digolongkan sebagai pemikiran sesat dan kufur.
Terhadap reaksi dan sanggahan tersebut Ibnu Rusyd tampil membela keabsahan pemikiran mereka serta membenarkan kesesuain ajaran agama dengan pemikiran falsafah.Ia menjawab semua keberatan imam Ghazali dengan argumen-argumen yang tidak kalah dari al-Ghazali sebelumya.
Ibnu Rusyd sebagai filosof besar, juga pemikir, membahas dan memecahkan masalah-masalah yang ppernah dipikirkan oleh filusuf-filusuf sebelumnya.Ia tidak menerima begitu saja, tetapi menerima yang setuju dan menilak yang sebaliknya. Ia juga mengkritik Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajjah dan lain-lain.
Sejalan pengajaran syar’at untuk membuktikan kebenaran konsep (tashdiq), metode metode yang dapat digunakan ada tiga macam, yaitu:
- Metode Retorika (al-khatabiyyah),
- Metode Dialektik (al-jadaliyyah),
- Metode Demonstratif (al-burhaniyyah).
b. Metafisika
Dalam masalah ketuhanan, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa Allah adalah Penggerak Pertama (muharr[19]ik al-awwal).Sifat positif yang diberikan kepada Allah ialah “Akal”, dan “Maqqul”.Wujud Allah adalah Esa-Nya.Wujud dank e-Esa-an tidak berbeda dari zat-Nya.
Konsepsi Ibnu Rusyd tentang ketuhanan jelas sekali merupakan pengaruh Aristoteles, Potinus, Al-Farabi, dan Ibnu Sina, di samping keyakinan agama Islam yang dipeluknya.Mengsifati Tuhan denga’Esa’ merupakan ajaran Islam, tetapi menamakan Tuhan sebagai Penggerak Pertama, tidak pernah dijumpai dalam filsafat Aristoteles dan Plotinus, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Adapun mengenai sifat-sifat Allah, Ibnu Rusyd lebih dekat kepada paham Mu’tazilah. Sebenarnya Ibnu Rusyd bermaksud mengkritik pendapat Ibnu Sina yang menyatakan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang persial dengan ilmu kulli (universal), dan pendapat Asy’ariayah yang menyatakan bahwa Allah mengetahui hal-hal yang persial dengan ilmu qadim, di sisi lain mereka juga mengatakan bahwa apa yang berkaitan dengan yang baharu, maka ia juga baharu. Bagi Ibnu Rusyd, tidak tepat menyatakan secara terbuka bahwa ilmu Allah itu qadim atau baru, yang terpenting dijelaskan bahwa alam ghaib dapat diperbandingkan dengan alam baharu, dengan kata lain bahwa ilmu Allah tidak dapat diperbandingkan dengan ilmu manusia.
c. Tanggapan Terhadap Al Ghazali
Melalui buku Tahafut al-Falasafah (Kekacauan Pemikir para Filsuf), Al Ghazali melancarkan kritik keras terhadap para filsuf dalam 20 masalah.Tiga dari masalah tersebut, menurut Al Ghazali, dapat menyebabkan kekafiran.Pertama, qadamnya alam.Kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam.Ketiga, tidak adanya pembangkitan jasmani.
Sehubungan serangan dan pengkafiran Al Ghazali itu, Ibnu Rusyd tampil membela para filsuf dari serangan dan pengkafiran. Dalam rangka pembelaan itulah ia menulis buku Tahafut al-Tahafut (Kekacauan dalam Kekacauan), yang menunjukan secara tegas bahwa Al Ghazali-lah yang sebenarnya yang dalam kekacauan pemikiran, bukan pada filsuf.
d. Moral
Ibnu Rusyd membenarkan tiori Plato bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutukan kerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kebahagian. Dalam merealisasikan kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir bagi manusia, diperlukan bantuan agama yang akan meletakkan dasar-dasar keutamaan akhlak secara praktis, juga bantuan filsafat yang mengajarkan keutamaan teoritis, untuk itu diperluakan kemampuan berhubungan dengan akal aktif.
[1] Hisyimsyah Nasution.Filsafat Islam,Cetakan ke IV(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm,77.
[2]Mustafa.Filsafat Islam, Cetakan ke III(Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm, 214-215.
[4] Hisyimsyah Nasution.Filsafat Islam, hlm. 79.
[6]Mustafa.Filsafat Islam, hlm, 224-26.
[8]Hasyimsyah Nasution.Filsafat Islam,hlm, 83
[9]Mustafa.Filsafat Islam, hlm, 228.
[11]Hasyimsyah Nasution.Filsafat Islam; hlm, 84-85.
[13]Mustafa.Filsafat Islam hlm, 240.
[15] Sirajuddin Zar.Filsafat Islam, Filsuf dan Filsafatnya. Cetakan ke-II (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hlm, 221
[17]Sirajuddin, Filsafat Islam, Filsuf dan Filsafatnya. Hlm 225
[18]Hisyimsyah Nasutio.Filsafat Islam, Cetakan ke IV(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm,115-116
[20]Hasyimshah Nasution. Filsafat Islam, hlm 120-126
Komentar